RSS

..: Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya :..

Unsur-Unsur Dinamis Dalam Belajar

Motivasi
Keinginan untuk mencapai suatu hal tentu berdasarkan pada motivasi tertentu. Begitu pula halnya dengan seseorang yang melakukan kegiatan belajar. Dalam hal belajar memang dibutuhkan motivasi. Untuk itu ada berbagai macam motivasi. Tetapi motivasi ingin berprestasi merupakan motivasi yang terpenting. Bila pebelajar tidak mempunyai motivasi untuk belajar, pengajar hendaknya memberi penjelasan sedemikian rupa sehingga dapat timbul motivasi yang dibutuhkan.
Sehubungan dengan motivasi, ada tiga hal yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan proses belajar :
  1. Motivasi jangka panjang
    Seorang murid yang belajar secara tekun guna menghadapi ujian akhir, mempunyai motivasi jangka panjang. Setiap kali ia selalu memaksa diri untuk dapat mengerti hal yang dijelaskan oleh pengajarnya. Motivasi seperti ini mempunyai arti sama pentingnya dengan inteligensi yang baik.
  2. Motivasi jangka pendek
    Motivasi jenis ini merupakan minat pada saat itu, yang dibutuhkan agar para murid (pebelajar) mengerti penjelasan pengajar. Motivasi ini sangat dipengaruhi oleh motivasi jangka panjang. Dan sebaliknya motivasi jangka panjang memperoleh isi dari motivasi jangka pendek.
  3. Kadar surut ingatan (regresi)
    Yang dimaksud dengan kadar surut ingatan atau regresi adalah proses melemahnya ingatan seseorang akan sesuatu hal. Pebelajar dengan kadar surut ingatan-ingatan yang tinggi mudah lupa akan masalah yang dijelaskan oleh pengajar. Tetapi pebelajar dengan kadar surut ingatan yang rendah akan dapat mengingat lebih lama mengenai hal yang diajarkan. Pengajar dapat memperkecil regresi murid-muridnya dengan jalan menanamkan motivasi kepada mereka, baik motivasi jangka panjang maupun motivasi jangka pendek.
Selain tiga hal diatas, untuk menimbulkan motivasi pebelajar, dapat ditempuh dengan cara-cara :
  1. Memperpadukan motif-motif kuat yang sudah ada
    Motif yang ada apabila motif itu kuat, akan dapat mendorong individu untuk berbuat dengan baik. Apabila pengajar mengetahui lebih dari satu motif yang ada pada pebelajar, maka motif-motif kuat itu dapat diperpadukan menjadi motif yang lebih kuat.
  2. Memperjelas tujuan yang hendak dicapai
    Seseorang yang berbuat lebih efektif, apabila dia mengetahui pasti apa tujuan perbuatannya itu. Oleh karena itu dalam membimbing pebelajar melakukan perbuatan belajar, perlu diperjelas apa tujuan belajarnya.
  3. Merumuskan tujuan-tujuan sementara
    apabila dikatakan tujuan belajar, biasanya tujuan itu terlalu jauh untuk dicapai. Oleh karena itu perlu dikemukakan tujuan-tujuan sementara yang dapat dicapai dalam waktu yang tidak terlalu lama.
  4. Merangsang pencapaian kegiatan
    Sehubungan dengan tujuan sementara itu ada suatu kaidah perbuatan individu yang menyatakan bahwa makin dekat individu itu kepada pencapaian tujuan makin besarlah usaha untuk mencapainya. Hal ini dapat pula digunakan untuk merangsang pebelajar untuk mencapai tujuan itu. Caranya ialah dengan selalu membuat pebelajar sadar bahwa dia sedang mendekati tujuan yang akan dicapainya.
  5. Membuat situasi persaingan diantara pebelajar
    Hal ini akan berhasil apabila persaingan akan lebih giat berusaha mengerjakan sesuatu apabila melihat orang lain melakukannya dengan giat pula. Umotif penonjolan diri dan ingin dihargai dapat dikuatkan dalam situasi persaingan ini.
  6. Persaingan dengan diri sendiri
    Persaingan semacam ini dapat dilakukan dengan memberi tugas dalam berbagai kegiatan yang harus dilakukan sendiri. Dengan sendirinya pebelajar akan dapat membandingkan kemampuannya dalam mengerjakan satu pekerjaan dengan kemampuannya dalam mengerjakan pekerjaan yang lain.
  7. Berikan pengetahuan tentang hasil kerja yang telah dicapai
    Apabila seseorang mengetahui hasil yang telah dicapainya dalam suatu usaha, dia selalu ingin mendapat hasil yang lebih baik lagi. Itulah sebabnya pada saat pengajar memberikan penilaian itu kepada masing-masing pebelajar yang bersangkutan. Untuk persaingan kelompok ada baiknya juga diberitahukan hasil penilaian itu secara terbuka sehingga pebelajar tahu tentang hasil semua teman-temannya.
Bahan belajar
Bahan atau hal yang dipelajari akan menentukan bagaimana proses belajar itu terjadi dan akan menentukan pula kuantitas maupun kualitas hasil belajar. Mempelajari informasi atau fakta berbeda caranya dengan mempelajari konsep atau prinsip. Demikian pula mempelajari keterampilan akan berbeda dengan mempelajari sikap. Tiap jenis bahan yang dipelajari apakah itu fakta, konsep, prinsip, keterampilan atau sikap memiliki karakteristik tersendiri sama lain. Pengajar perlu memahami berbagai macam kondisi belajar yang merupakan prasyarat dapat terjadinya proses belajar yang efektif untuk tiap jenis bahan yang dipelajari. Agar bahan yang dipelajari pebelajar dapat mencapai tujuan belajar yang diinginkan, disarankan beberapa hal :
  1. Bahan hendaknya menarik minat pebelajar.
  2. Bahan hendaknya mempunyai makna bagi kehidupan pebelajar kelak dikemudian hari.
  3. Bahan dipilih sesuai dengan pengalaman yang telah dimiliki pebelajar.
  4. Bahan disusun dari yang mudah ke tingkat yang lebih sulit.
  5. Bahan disusun dari yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks.
Suasana Belajar
Suasana belajar memegang peranan penting dalam kegiatan belajar. Suasana yang kondusif dan menyenangkan, suasana yang membuat pebelajar menjadi kerasan, akan sangat membantu mereka dalam mencapai tujuan belajar. Sebaliknya, suasana yang menakutkan, tegang dan tidak luwes menyebabkan pebelajar banyak mengalami hambatan-hambatan dalam belajar. Tugas pengajar adalah menciptakan suasana belajar sedemikian rupa sehingga memungkinkan pebelajar dapat melakukan kegiatan belajarnya dengan tenang dan aman, sehingga tidak terjadi hambatan-hambatan yang berakibat terjadinya kegagalan dalam mencapai tujuan belajar yang ingin dicapai.
Hal-hal yang dapat dilakukan pengajar agar tercipta suasana belajar yang baik adalah :
  1. Hargailah pebelajar dengan memberikan respon yang wajar apabila mereka bertanya tentang bahan pelajaran yang belum jelas. Pengajar hendaknya mengusahakan menjawab sedemikian rupa sehingga timbul rasa puas pada diri pebelajar.
  2. Demikian juga pengajar hendaknya menghargai jawaban yang diberikan oleh pebelajar, karena jawaban ini menunjukkan suatu keberanian yang patut dihargai tersendiri, terlepas dari benar/tidaknya jawaban tersebut. Pebelajar akan merasa puas walaupun jawaban yang dikemukakan tadi kurang benar asalkan diberitahu dimana letak kesalahannya.
  3. Memberi “kelonggaran” pebelajar dengan membentuk diskusi kelompok untuk memecahkan suatu masalah. Dengan diskusi kelompok situasi belajar menjadi lebih fleksibel, tidak tradisional, sehingga akan menghilangkan suasana tegang dan menakutkan.
  4. Memberikan pujian baik verbal maupun nonverbal bagi pebelajar yang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
  5. Berusaha selalu bersikap adil terhadap semua murid, sehingga dapat menghilangkan rasa saling curiga, iri hati dan rasa tidak senang baik terhadap sesama teman maupun terhadap pengajar. Apabila tidak, pasti akan menimbulkan suasana belajar yang tidak menguntungkan semua pihak.
  6. Pengajar hendaknya berupaya menggunakan multi metode dan multi media. Dengan demikian pebelajar akan menemukan variasi dalam belajar, aktivitas belajar lebih meningkat, rasa bersaing secara positip antar sesama teman akan muncul dengan sendirinya.
Media Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran sebagai suatu sistem memandang bahwa media merupakan bagian integral dalam kegiatan tersebut. Dengan fungsi media seperti itu, kedudukan media sama pentingnya dengan komponen-komponen lain dalam sistem pembelajaran, strategi pembelajaran, evaluasi hasil belajar.
Penggunaan media pembelajaran hendaknya mempunyai tujuan tertentu dan dapat meningkatkan aktivitas serta kreativitas pebelajar. Penggunaan media belajar yang dirancang secara matang dan terintegrasi, tidak saja dapat membantu siswa belajar tetapi yang lebih penting membantu dalam mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Melihat pentingnya fungsi dan kedudukan media pembelajaran tersebut, hendaknya pengajar benar-benar dapat memilih dan menggunakan sesuai dengan tujuan belajar yang ingin dicapai pebelajar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam pengadaan dan pemilihan media pembelajaran :
  1. Tujuan Pemilihan
    Memilih dan menggunakan media harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas.
  2. Karakteristik media pembelajaran
    Setiap media mempunyai karakteristik tertentu baik dilihat dari segi keampuhannya, cara pembuatannya maupun cara penggunaannya.
  3. Obyektivitas
    Unsur subyektivitas pengajar didalam memilih media pembelajaran harus dihindarkan, artinya pengajar hendaknya menghindari pemilihan dan penggunaan media atas dasar kesenangan pribadi.
  4. Situasi dan kondisiSituasi dan kondisi yang ada juga perlu mendapat perhatian didalam menentukan media yang akan digunakan. Situasi dan kondisi yang dimaksud meliputi

    • situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yang akan dipergunakannya seperti ukurannya, perlengkapannya, ventilasinya, dan
    • situasi serta kondisi siswa, tentang jumlahnya, motivasi dan kegairahannya.
  5. Kualitas teknik
    Dari segi teknik media yang akan digunakan perlu juga diperhatikan. Apakah gambar-gambarnya sudah jelas, apakah suaranya jelas dapat didengar, yang kesemuanya dapat mengganggu kegiatan belajar.
  6. Keefektifan dan efisiensi penggunaan
    Kefektifan berkenaan dengan hasil yang dicapai, sedangkan efisiensi berkenaan dengan proses pencapaian hasil tersebut. Kefektifan dalam menggunakan media meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut informasi pengajaran dapat diserap oleh pebelajar dengan optimal sehingga menimbulkan perubahan tingkah lakunya. Sedangkan efisiensi meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut sedikit mungkin.
Dick dan Carey lebih tegas mengemukakan ada empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan dan pengadaan media:
a) ketersediaan sumber tempat
b) ketersediaan dana, tenaga, fasilitas
c) keluwesan, kepraktisan dan ketahanan media
d) efektivitas biaya yang diperlukan.
Kondisi subyek yang belajar
Kondisi subyek yang belajar (pebelajar) sangat mempengaruhi kegiatan belajar, kondisi subyek ini dapat berkenaan dengan kondisi jasmaniah, kondisi psikologis dan kelelahan.
  1. Kondisi jasmaniah

    • Faktor kesehatan
      Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan terganggu, selain itu juga ia akan cepat lelah, kurang bersemangat, mudah pusing, mengantuk jika badannya lemah, kurang darah ataupun ada gangguan-gangguan/kelainan-kelainan fungsi alat indera serta tubuhnya.
    • Cacat tubuh
      Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Kondisi pebelajar seperti ini hendaknya diberi kesempatan khusus belajar pada lembaga pendidikan yang menangani kasus seperti itu.
  2. Kondisi psikologi

    • Inteligensi
      Inteligensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, pebelajar yang mempunyai tingkat inteligensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat inteligensi rendah.
    • Perhatian
      Untuk menjamin hasil belajar yang baik, maka pebelajar harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajari. Jika bahan pebelajar tidak menjadi perhatian siswa maka timbullah kebosanan. Usahakan bahan pelajaran selalu menarik bagi pebelajar.
    • Minat
      Minat besar pengaruhnya terhadap belajar. Karena apabila bahan pelajaran tidak sesuai dengan minat siswa, mereka tidak akan belajar secara sungguh-sungguh, sebab tidak ada daya tarik baginya. Bahan pelajaran yang menarik minat akan lebih mudah dihafalkan dan disimpan.
    • Motif
      Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Untuk mencapai tujuan diperlukan suatu perbuatan. Motif adalah daya penggerak/pendorong yang menyebabkan seseorang melakukan perbuatan. Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik. Motif yang kuat sangat diperlukan dalam belajar.
    • Kematangan
      Kesiapan adalah suatu kesediaan untuk memberi respon atau reaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri pebelajar, yang erat hubungannya dengan kematangan. Individu yang matang akan lebih siap dalam melakukan kegiatan belajar.
  3. Kelelahan
    Kelelahan dapat berujud kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
    Kelelahan jasmani terlihat dari tubuh yang lemah dan terjadi karena kekacauan substansi sisa pembakaran didalam tubuh, sehingga darah kurang lancar pada bagian-bagian tertentu. Kelelahan rohani dapat terlihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu menjadi hilang.
    Dalam kegiatan belajar, harus diupayakan agar pebelajar tidak dihinggapi kelelahan baik jasmani maupun rohani yang dapat mengganggu pencapaian tujuan belajarnya.

Posted 22 Jul 2011 03:51 PM by admin in Teori Belajar


Download Attachment :
G1898518 Instalasi Wordpress Offline.pdf
Mkpbm I Mata Kuliah Pbm I.doc
Pengaruh Ifrs Terhadap Silabus Dan Materi Pengajaran Akuntansi Keuangan.doc
Workshop Pengembangan Silabus Dan Rpp Pada Guruguru Sekolah Dasar Se Kota Surabaya Tahun 2011.doc
Nara Sumber Pada Workshop Pengembangan Silabus Dan Rpp Pada Guruguru Sd Pemerintah Kota Surabaya Tanggal 20 Juli 2010.doc

Recent Post

  • Hakikat Dan Perkembangan
    Hakikat Dan Perkembangan Motorik Anak Usia Dini - Motorik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan gerakan-gerakan tubuh. Secara ...
  • Bagaimana Anak Usia
    Bagaimana Anak Usia Dini Belajar - Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat ...
  • Jenis-jenis Asesmen Autentik
    Jenis-jenis Asesmen Autentik - Dalam rangka melaksanakan asesmen autentik yang baik, guru harus memahami ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Belajar Autentik - Asesmen Autentik menicayakan proses belajar yang Autentik pula. Menurut Ormiston ...
  • Asesmen Autentik dan
    Asesmen Autentik dan Tuntutan Kurikulum 2013 - Asesmen autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran ...
  • Definsi dan Makna
    Definsi dan Makna Asesmen Autentik - Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil ...
  • Landasan Kurikulum 2013
    Landasan Kurikulum 2013 - Kurikulum 2013 dikembangkan berdasarkan ketentuan yuridis yang mewajibkan adanya pengembangan ...
  • Perkembangan Kognitif dan
    Perkembangan Kognitif dan Kemampuan Calistung (Baca-Tulis-Hitung) - NAEYC (National Association for the Education of Young Children) memberikan ...
  • Tahap Perkembangan Kognitif
    Tahap Perkembangan Kognitif anak usia dini (lahir-8 tahun) menurut Piaget - Tahap Sensorimotor (lahir-18 bulan) Pada tahap ini, bayi hanya bergantung ...
  • Tahapan kognitif Anak
    Tahapan kognitif Anak - Kognisi adalah proses dan produk yang terjadi dalam otak sehingga ...
  • Model Pembelajaran Reggio
    Model Pembelajaran Reggio Emilia - Model pembelajaran Reggio Emilia merupakan contoh model ...
  • Model Pembelajaran Montessori
    Model Pembelajaran Montessori - Model pembelajaran Montessori mengacu pada pembelajaran yang dikembangkan Maria Montessori, ...
  • Model pembelajaran Bermain
    Model pembelajaran Bermain Kreatif - Model pembelajaran bermain kreatif mulai dikembangkan pada tahun 1985 di ...
  • Model Pembelajaran High/scope
    Model Pembelajaran High/scope - Pendekatan high scope pada awalnya dikembangkan untuk anak anak luar ...
  • Hakikat Permainan Teka
    Hakikat Permainan Teka Teki - Pada hakikatnya permainan adalah suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh individu ...